Kenapa menggembirakan? Pascagempa berkekuatan 7,9 SR yang terjadi pada 30 September lalu dunia pendidikan di Sumbar termasuk yang paling merasakan efeknya. Banyak sekolah yang rusak berat sehingga proses belajar mengajar (PBM) terpaksa dilangsungkan di tenda-tenda dan lokal darurat. Kondisi itu tentunya tidak efektif jika dibandingkan dengan kondisi PBM sebelum gempa. Selain itu, adanya trauma yang menghantui para pelajar juga memberikan ekses negatif terhadap suasana belajar para siswa tersebut.
Akibat dari semua itu, salah satu hal yang tidak terelakkan adalah kecenderungan terjadinya penurunan efektifitas dan produktivitas dalam dunia pendidikan di Sumatera Barat. Maka, tentu situasi yang seperti inilah yang kemudian menjadi ancaman nyata dalam proses kelulusan siswa dalam UN tahun pelajaran 2009/2010. kita mengkhawatirkan, dengan situasi yang masih ‘darurat’ seperti ini, tingkat persentase kelulusan siswa di Sumbar akan anjlok dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Memang, kalau boleh sedikit memelintir pepatah, ‘malang sekejap mata, untung juga berusaha yang kita raih’. Maka, beruntunglah dunia pendidikan di Sumatera Barat dengan adanya keputusan pemerintah menyelenggarakan UN susulan. Dengan demikian, ada juga harapan bagi putra-putri Ranah Minang ini untuk lulus dalam dua kali penyelenggaran UN (termasuk UN susulan) tersebut.
Terlepas dari itu, kita pantas juga angkat topi atas pernyataan Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Burhasman Bur. Dia dengan sukarela mengakui bahwa target kelulusan tahun ini akan lebih sulit dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini, katanya, mengingat banyak kerusakan pada bangunan sekolah. Otomatis mengganggu kenyamanan siswa dalam proses belajar mengajar. Apalagi saat ini juga masih banyak siswa belajar di tenda darurat. Belum lagi menyangkut psikologis siswa pascagempa.
Pernyataan Burhasman itu lebih baik kiranya dibandingkan dengan pernyataan-pernyataan bernada optimis yang terkadang rasanya sulit diwujudkan. Bahkan - sekali lagi memninjam pepatah – cenderung seperti ‘tong kosong nyaring bunyinya’.
Kita memang harus berkaca pada realita yang ada. Berpijak pada situasi dan kondisi yang menjadi cerminan nyata di saat sekarang ini. Sebab, cukup berlasan rasanya kekhawatiran kita akan nasib pendidikan di negeri ini yang akan lebih buruk lagi jika pernyataan-pernyataan berbau ketakaburan dikeluarkan.
Sebagai permisalan, seandainya saja target kelulusan UN tidak mempertimbangkan suasana ‘darurat’ seperti saat sekarang ini, dapat dibayangkan akan dengan mudahnya terjadi berbagai penyelewengan-penyelewengan dalamn pelaksanaan UN yang akan datang. Pihak sekolah dan majelis guru tentu juga akan kalang kabut dibuatnya., sudahlah situasi seperti sekarang ini masih juga dikasih target yang tidak realistis.
Namun demikian, tentu situasi yang sekarang ini tidak bisa dijadikan ‘kambing hitam’ atau sebagai suatu pengecualian dalam mengejar target kelulusan. Jangan sampai karena situasi ini kemudian kita, terutama pelaku dunia pendidikan bisa bekerja berlalai-lalai.
Oleh karena itu, ada baiknya kita juga mengingatkan agar adanya semangat kerja keras dari pemerintah kabupaten dan kota sampai sekolah untuk mendorong agar tingkat kelulusan siswa bisa dipertahankan seperti tahun lalu meskipun dengan kondisi seperti saat ini.
Salah satu upaya sederhana yang bisa dilakukan adalah berharap partisipasi pemerintah kabupaten dan kota, sekolah serta orangtua agar mengefektifkan waktu belajar, sehingga kurikulum bisa tercapai, seperti menggelar pelajaran tambahan atau bentuk lain agar siswa siap menghadapi UN.
Terkait adanya UN susulan, yang pasti hal itu jangan menjadi alasan bagi siswa untuk tidak belajar secara serius menghadapi UN gelombang pertama. Mengutip pernyataan Burhasman, jangan karena Sumbar kena gempa, lantas siswa mengandalkan ujian ulangan, sedapatnya mereka bisa lulus UN dan tidak perlu ujian ulangan. *
0 komentar:
Posting Komentar