Rasa kebanggan kita muncul tatkala hal ini disadari langsung oleh Walikota Padang Fauzi Bahar. Kemarin, Fauzi meminta pada para pemuka agama, ustad/buya/mubaligh untuk mengunjungi tenda pengungsian dan aktif memberikan tausyiah/siraman rohani yang menyejukkan hati pada para pengungsi setelah gempa bumi hebat pada 30 September lalu.
Tentu, ulama juga harus pro aktif dalam menyikapi hal ini. Hati para pengungsi dan para korban bencana memilukan hingga saat ini masih tidak tenang. Isu yang berkembang tentang adanya gempa berkekuatan lebih dahsyat tentu membuat hati makin tidak tentram. Mata tidak mau terpicing sedikitpun. Hati gelisah. Duduk tegak kemari susah. Terbayang gempa yang akan datang apabila diiyakan pula isu-isu yang tidak jelas itu.
Padahal, BMG sudah berulang kali menyebutkan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan gempa itu akan datang. Namun, sayangnya, masih banyak di antara kita yang termakan oleh isu tersebut. Waspada boleh, tapi jangan sampai hal ini menipiskan keimanan kita pada Sang Khalik. Dialah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Jika prediksi menyebutkan akan terjadi gempa dahsyat, jika tidak kata Sang Pencipta, maka tidak akan terjadi apapun. Sebaliknya, jika prediksi menyebutkan tidak akan ada gempa dahsyat, namun jika Yang Maha Berkehendak berkata lain, detik ini juga dia bisa menjungkir balikkan isi bumi ini.
Makna yang bisa kita tarik dari hal ini adalah jangan mudah percaya pada isu-isu yang tidak jelas. Belum tentu hal itu terbukti kebenarannya. Sementara kita sudah gelisah sendiri. Apalagi, trauma gempa dahsyat yang baru saja berlalu masih membekas dalam ingatan. Tidak mudah terlupakan begitu saja. Jerit minta tolong, rintihan kesakitan, dan harta yang tandas masih membayang jelas di pelupuk mata.
Di sinilah kita butuh penyejuk. Bagai oase di padang pasir, memberi rasa nyaman di relung sanubari. Di sinilah peran ulama negeri ini sangat diharapkan. Mereka yang baisanya berdakwah di masjid-masjid, saatnya sekarang turun ke tenda-tenda pengungsian. Memberikan ceramah sekedar penyejuk bagi jiwa yang resah. Meredakan emosi yang masih labil, mengurangi tingkat stress yang masih memuncak. Tidak hanya di Kota Padang, namun juga di daerah-daerah lainnya di Sumbar yang terkena dampak mengerikan akibat gempa dahsyat tersebut.
Kita tentunya sangat berharap, hendaknya materi siraman rohani selama satu bulan ke depan bukan materi ceramah yang bersifat ‘keras’ melainkan difokuskan pada peningkatan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, menenangkan dan menentramkan bathin umat, memotivasi umat untuk tetap melakukan aktivitas sehari-hari dengan baik dan mengajak umat untuk senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi mungkar. ***
0 komentar:
Posting Komentar