Gempa bumi hebat yang menghancurkan berbagai sendi kehidupan Sumatera Barat telah berlalu. Masyarakat, terutama yang menjadi korban, perlahan-lahan mulai bangkit kembali. Mereka mulai berbenah, baik secara individu maupun bergotong royong membersihkan reruntuhan bekas bangunan rumah yang diamuk goncangan dahsyat tersebut.
Sebagian dari mereka bahkan telah kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti sebelum bencana terjadi. Transportasi kembali normal, aktrivitas perdagangan kembali ramai, perkantoran pun tak lagi sepi.
Warga Sumbar tampaknya tak ingin berlama-lama meratapi bencana yang merupakan cobaan dari Sang Khalik ini. Meski air mata belum lagi kering, namun berhenti menangis adalah pilihan yang mesti dilakukan.
Kesadaran bahwa ini adalah sebuah cobaan dan ujian untuk membuat manusia sadar dan mulai hidup dengan adil membuat warga tetap bersemangat. Saat ini kita mesti banyak berdoa dan kembali bangkit untuk menata hidup.
Sementara itu, para korban yang kehilangan tempat berteduh dan terpaksa tinggal di tenda yang terasa panas di siang hari dan dingin serta bernyamuk di malam hari, mereka tetap tersenyum seiring roda kehidupan yang terus berputar.
Dan sampailah kita pada bababk baru setelah bencana datang menyapa, yakni upaya pemulihan. Setidaknya, ada tiga hal yang penting diperhatikan dalam proses pemulihan ini, yakni menumbuhkan dan memupuk motivasi masyarakat untuk segera bangkit kembali menata kehidupan di masa depan, memupuk pengetahuan tentang zona geologis bumi Sumbar yang merupakan daerah rawan bencana sehingga bisa membangun kembali sarana fisik yang proporsional dan tepat, serta tetap kritis dengan proses rekonstruksi yang memungkinkan masuknya berbagai kepentingan yang berbenturan dengan nilai sosial, budaya, dan ekonomi masyarakat lokal.
Harus diakui, masih banyak masyarakat yang menjadi korban merasa betapa beratnya memulai melangkah dari titik nol. Mereka dan sebagian kita kehilangan anggota keluarga dan rumah satu-satunya yang kita bangun dengan keringat dan kasih sayang bertahun-tahun. Sebagai masyarakat yang religius, satu-satunya jalan untuk tetap optimis tak lain adalah dengan memberikan makna positif atas bencana ini.
Harapan itu perlu dibangkitkan dari kekuatan batin kita yang terdalam, sebuah kearifan spiritual. Pada tingkat tertentu motivasi batin ini memang perlu menggunakan metode psikologi, seperti trauma healing. Motivasi batin tersebut bersumber dari keimanan kuat akan Yang Maha Kuasa yang selalu hadir untuk memberikan kekuatan kepada manusia dalam cobaan seberat apapun.
Pada kenyataannya cobaan tersebut tidak saja dirasakan oleh satu atau dua orang saja, tapi oleh ribuan yang lain. Sehingga bangkit dari bencana gempa secara bahu membahu akan lebih meringankan beban yang berat ini. Pertanyaannya adalah apa saja dan bagaimana menghidupkan kearifan spiritual dan lokal yang bisa memotivasi para korban untuk bangkit kembali dari keterpurukan bencana yang memporak-porandakan ini?
Tentunya itu semua berpulang pada diri kita pribadi, sudah sejauh mana kita memupuk semangat untuk bangkit kembali dari duka lara ini dan menatap cerahnya hari seiring badai yang tersaput sinar mentari.
0 komentar:
Posting Komentar