Tulisan Terbaru

Info Ringan

Tutorial Bisnis Internet

Ekonomi Bisnis

Rabu, 18 November 2009

'Pesan Tersirat' SBY

Rabu, 18 November 2009
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau biasa disingkat SBY saja adalah presiden pertama di Indonesia yang terpilih dua kali periode berturut-turut pasca lengsernya Soeharto. Bahkan, dalam pilpres tahun ini SBY berhasil terpilih sebagai presiden hanya dalam satu kali putaran. Adalah suatu hal yang luar biasa jika melihat perolehan suara pasangan SBY-Boediono dalam pilpres lalu yang mencapai 60 persen lebih.

Sejumlah pengamat mengatakan, kemenangan SBY dalam pilpres itu karena dia dinilai berhasil dalam membawa perubahan bagi Indonesia ke arah yang lebih baik. Banyak kemajuan yang berhasil dicapai oleh SBY selama lima tahun pemerintahannya terdahulu bersama Jusuf Kalla. Baik itu di bidang korupsi, kesejahteraan pegawai, maupun hubungan luar negeri.

Namun, tidak sedikit pula pengamat yang mengatakan bahwa kemenangan SBY lebih disebabkan oleh figur dan kepribadiannya yang tenang, kalem, dan tidak meledak-ledak. Selama ini, SBY dikenal sebagai sosok yang mampu meredam dan menutupi emosinya. Sehingga di setiap kesempatan penampilannya selalu memikat.

Memang, Presiden SBY adalah sosok yang mampu mengendalikan emosinya. Seberat apapun masalah bangsa yang dihadapinya, namun setiap tampil SBY selalu saja berhasil menunjukkan ketokohan yang tenang dan kebapakan di mata orang-orang.

Namun, alangkah terkejutnya kita ketika Rabu kemarin SBY terlihat seperti orang yang sedang ‘marah’. Setidaknya hal itu tergambar dalam ucapan yang disampaikannya. "Jangan sampai pula saya sebagai presiden didorong dan dipaksa untuk mengambil langkah yang bukan kewenangan saya. Kalau begitu berarti saya melawan Undang-Undang," kata presiden sebelum membuka rapat terbatas membahas hasil rekomendasi Tim Verifikasi Fakta dan Proses Hukum kasus Bibit-Chandra, di kantornya, Rabu, 18 November 2009 kemarin.

Apa yang disampaikan SBY itu tidak salah dan cenderung ada benarnya. Sejak kasus Bibit-Chandra melaju bak air deras ke permukaan dan menyapu semua pihak, mulai dari masyarakat awam hingga elit kejaksaan dan Polri, SBY merupakan salah satu sosok yang paling disorot. Pasalnya, SBY dinilai tidak bersikap tegas dalam menengahi konflik horizontal antar lembaga penegak hukum di negeri ini. Bahkan, ketika namanya dicatut dalam rekaman pembicaaan Anggodo, SBY terkesan mendiamkannya saja. Buktinya, SBY sampai sekarang tidak pernah melakukan tuntutan hukum, seperti yang dikatakannya di saat awal-awal rekaman itu keluar.

Namun, menyimak lebih lanjut perkataan SBY terkait kasus yang makin tidak berkeruncingan itu, memang tidak boleh berlama-lama tetapi koridornya harus jelas. Persoalan tersebut, kata presiden, merupakan bagian dari sejarah yang panjang dan harus dipertanggungjawabkan kepada rakyat kelak di kemudian hari. "Jadi tidak boleh kita serampangan atau gegabah saja," katanya.

Jadi jelaslah, ‘kemarahan’ SBY itu ada dasarnya. Presiden tidak menginginkan persoalan yang sebenarnya sudah ada koridor hukumnya itu ‘terintervensi’ oleh rumor, desas-desus berita yang tidak jelas dari mana sumbernya. Apalagi oleh desakan emosional pihak-pihak tertentu.

Namun, satu hal yang jelas masyarakat saat ini sudah semakin kritis. Konflik berkepanjangan yang terjadi saat ini sudah membuat masyarakat menjadi jenuh. Oleh karena itu, ada baiknya para lembaga yang terlibat dalam persoalan ini, seperti pihak KPK, Kejaksaan, maupun Polri benar-benar mendengarkan pesan SBY bahwa dia tidak menginginkan kasus ini menjadi berlama-lama.

Mampuikah lembaga itu mengakomodir pesan SBY itu? Ada baiknya kita tunggu hingga polemik ini selesais ecara tuntas sesuai koridor hukum dan aturan yang ada. Artinya, kebenaran itu harus terungkap dan siapapun yang bersalah harus dihukum, sesuai pesan SBY bahwa hal itu akan dipertanggungjawabkan kepada rakyat di kemudian hari.


Related Posts



0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © Vox Populi Vox Dei | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog