Tulisan Terbaru

Info Ringan

Tutorial Bisnis Internet

Ekonomi Bisnis

Minggu, 08 November 2009

Perbankan Seharusnya 'Istimewakan' Pengusaha Kecil Menengah

Minggu, 08 November 2009
Pimpinan Bank Indonesia Cabang Padang, Romeo Rissal, menyebut bahwa penyaluran kredit perbankan di Sumatera Barat masih rendah. Hanya sekitar Rp14 triliun hingga September 2009. Meski demikian, katanya, angka itu diyakini bisa meningkat dua kali lipat atau 100 persen menjadi Rp28 triliun pada 2010.

Sebuah ucapan yang boleh dikatakan sangat optimis. Apalagi di tengah kondisi krisis global yang masih belum sepenuhnya usai. Jika ucapan itu keluar dari mulut orang awam tentu banyak yang memandang sebelah mata. Namun, sikap optimis itu keluar dari mulut pimpinan Bank Indonesia cabang Padang. Sudah barang tentu ucapan itu berdasarkan hitung-hitungan matang, yang tentu pula hanya bisa dipahami oleh kalangan tertentu saja.

Namun dari mana angka 100 persen itu muncul tentu menjadi bahan pertanyaan yang sedikit banyak mengusik pikiran. Maklum saja, dampak krisis keuangan global yang berasal dari negeri Paman Sam itu masih terasa dampaknya hingga sekarang. Terutama di dunia perbankan. Berdasarkan catatan pihak Bank Indonesia, pertumbuhan penyaluran kredit pada semester I 2009 hanya 1,2 persen dibandingkan bulan Desember 2008.

Artinya, penyaluran kredit secara nasional masih berjalan stagnan, jika tidak dikatakan lamban. Kondisi itu dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya tingginya resiko pemberian kredit di tengah kondisi perekonomian yang masih belum pulih dari krisis global. Sehingga pihak perbankan (bankir) berpikir berulang kali dalam menyalurkan kredit. Ancaman kredit macet merupakan mimpi buruk kalangan perbankan yang sedapat mungkin mereka hindari.

Di sisi lain, calon kreditur juga beranggapan tingkat bunga kredit dari bank masih cukup tinggi, sementara keadaan perekonomian masih belum stabil. Tentu calon kreditur, terutama dari kalangan menengah kebawah yang masih berpikiran ‘waras’ akan sangat hati-hati sekali jika ingin mengambil kredit perbankan.

Akibatnya, penyaluran kredit perbankan masih jalan di tempat. Jikalaupun ada pertumbuhan, hanya berkisar satu digit seperti yang dirilis oleh Bank Indonesia.
Selain dipengaruhi oleh kondisi perekonomian yang masih ‘rapuh’ akibat krisis global, kucuran kredit perbankan juga dinilai masih ‘menganakemaskan’ perusahaan-perusahaan besar. Sementara, kalangan menengah ke bawah hanya bisa berlapang dada jika proposal pengajuan kredit mereka ditolak, atau masih menunggu persetujuan meski sudah menunggu cukup lama.

Kita berharap, pengistimewaan perusahaan besar oleh pihak perbankan tidak lagi terjadi di masa-masa yang akan datang. Sebenarnya, justru kalangan menengah ke bawah atau usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) itulah yang seharusnya ‘diistimewakan’ oleh pihak perbankan.

Sejarah sudah membuktikan, perusahaan-perusahaan besar atau korporasi banyak yang kolaps ketika terjadi krisis ekonomi menerpa republik ini satu dekade lalu. Pasalnya, sektor ini cenderung menggunakan sistem keuangan modern yang rentan terhadap perubahan kondisi perekonomian dunia. Sebaliknya, UMKM justru membuktikan diri lebih ‘tahan banting’ dibandingkan korporasi. Sebab, UMKM bisa dikatakan tidak bersinggungan dengan sistem keuangan modern dan mengandalkan bahan lokal sebagai komponen utama produksi. Dengan demikian sektor ini lebih mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan bisnis sehingga lebih kuat menghadapi krisis.

Jika berdasarkan kondisi di atas, tentu tidak salah jika pihak perbankan seharusnya lebih ‘mengistimewakan’ pengusaha kecil menengah. Konsep yang sama tentunya bisa pula lebih diseriusi oleh BI Cabang Padang. Apalagi, ketika baru saja dilantik menjadi Pimpinan BI Cabang Padang beberapa waktu lalu Romeo dengan lantang mengungkapkan tekadnya untuk lebih memaksimalkan realisasi kredit bagi UKM di Sumbar. Namun, jika hal itu tidak diseriusi, tentu angka kenaikan realisasi penyaluran kredit yang katanya bisa mencapai 100 persen pada 2010 itu hanya benar-benar menjadi ‘angin surga’ belaka alias pepesan kosong. Kita tunggu saja. ***


Related Posts



0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © Vox Populi Vox Dei | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog