Kalimat di atas adalah penggalan lirik sebuah lagu berjudul ‘Untuk Kita Renungkan’ karya Ebiet G. Ade. Lagu itu menceritakan tentang orang-orang yang tega mengambil kesempatan dalam kesempitan. Lagu itu kiranya cocok menggambarkan situasi yang tengah terjadi di Sumatera Barat setelah gempa dahsyat berkekuatan 7,6 SR, Rabu (30/9) lalu.
Betapa tidak, di saat saudara-saudara kita ditimpa musibah dahsyat gempa bumi, rumah hancur, korban jiwa berjatuhan, dan kelaparan yang mendera para korban selamat, banyak oknum tidak bertanggunjawab yang menjarah bahan bantuan untuk para korban gempa. Bahkan, di antara para penjarah itu ada yang menggunakan kendaraan roda empat. Naudzu billah minzalik!
Di manakah hati nurani orang-orang yang tega berbuat nista itu? Apakah sudah tumpul benar hati dan sudah begitu bebalkah akal pikiran mereka? Sehingga dengan beraninya menjarah bahan bantuan untuk saudara-saudara mereka yang ditimpa musibah? Inikah gambaran urang Minang yang memiliki prinsip tenggang raso itu?
Kepala Sekretariat, Sarkorlak Penanggulangan Bencana Sumbar, Ade Edwar, mengakui bahwa hal itu sangat disesalkan. Benar, kita semua sangat menyesali hal itu. Namun hanya dengan menyesali saja tidak akan mengubah apa yang telah terjadi. Bukan tidak mungkin hal serupa akan terulang lagi. Bisa jadi pula, penjarahan bahan bantuan itu akan terjadi di daerah-daerah lain.
Oleh karena itu, pihak terkait agar mengarifi kejadian ini. Selama ini, bantuan yang diangkut ke lokasi tujuan memang sangat jarang dilakukan pengawalan oleh aparat keamanan seperti TNI/Polri. Kedepannya, agar hal yang memalukan ini tidak terulang lagi, hendaknya setiap bantuan yang akan didistribusikan dikawal ketat oleh aparat keamanan. Itupun jangan asal dikawal saja, namun harus benar-benar mempertimbangkan kondisi terburuk, misalnya penjarahan yang dilakukan oleh ratusan massa.
Terlepas dari semua itu, sebenarnya kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya para penjarah jika para penjarah itu adalah para korban gempa. Mungkin bantuan yang mereka butuhkan sudah terlambat. Perut kelaparan sementara bantuan tidak kunjung datang. Daripada bacakak jo kalang-kalang, elok bacakak jo urang. Hal seperti itu bisa saja terjadi. Dan jika kondisinya memang seperti itu, maka inilah tugas besar dan pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan oleh pemerintah.
Artinya, pemerintah harus memikirkan bagaimana bantuan itu bisa cepat didistribusikan kepada para korban. Jangan tunggu para korban itu ‘tabik rabo’ akibat bantuan yang mereka butuhkan terlambat datangnya.
Terkait soal distribusi, pemerintah juga harus memikirkan agar penyaluran bantuan itu tidak amburadul. Misalnya, daerah yang terparah tidak mendapat bantuan sementara daerah yang tidak begitu parah justru bantuan datang berlimpah. Kondisi ini tentu akan menambah panjang persoalan yang telah ada sebelumnya. Artinya, bantuan harus didistribusikan secara merata ke daerah-daerah yang terkena dampak bencana.
Selain itu, pemerintah janganlah mempersulit warga yang datang meminta bantuan. Misalnya dengan meminta KTP. Bagaimana mungkin warga yang rumahnya sudah hancur dimintai juga KTP, dompet entah kemana? Mudah-mudahan hal yang terjadi di daerah lain ini tidak terjadi di Sumbar.
0 komentar:
Posting Komentar