Sebenarnya, masyarakat Sumatera Barat bukannya tidak sadar akan kondisi yang seperti ini. Berulang kali didengungkan bahwa Sumatera Barat dulunya dikenal sebagai daerah yang melahirkan tokoh-tokoh dan pemimpin nasional. Sekarang hal itu tidak tampak lagi. Tidak mengherankan, semua kalangan mulai dari gubernur, anggota dewan, hingga praktisi pendidikan berlomba-lomba menyuarakan keinginannya untuk ‘mambangkik batang tarandam’ atau kembali menjadikan Sumbar sebagai pencipta tokoh nasional yang tidak hanya mumpuni dalam ‘otak’ namun juga ‘watak’ atau kepemimpinan.
Akan tetapi, sampai saat ini semua tekad itu hanya sebatas wacana saja. Tidak ada realisasi yang tampak dalam mewujudkan keinginan tersebut. Apalagi, sistem pendidikan sekarang justru menuntut lahirnya generasi ‘jitu otak’ dimana tingkat kelulusan hanya dinilai berdasarkan nilai saat ujian semata.
Tentu, para pendidik dan juga pelaku dunia pendidikan daerah ini, mulai dari kepala daerah, kepala dinas, hingga kepala sekolah justru mau tak mau saling berlomba agar anak didik di wilayahnya mencapai nilai sesuai standar kelulusan. Kalau perlu, segala cara dilakukan agar mampu lulus 100 persen.
Secara tidak sadar, sistem yang seperti inilah yang membuat paradigma pendidikan di negeri ini semakin jauh dari harapan. Lebih parah lagi, konsep yang seperti ini akan melahirkan generasi muda yang hanya mengejar nilai semata, berorientasi materi, dan bukannya menjadi generasi pemimpin seperti kiprahnya di masa lampau.
Benar, kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan sistem pendidikan yang kita anut sekarang. Justru, kita di Sumatera Barat telah memiliki konsep asli bagaimana mendidik seorang anak menjadi insan yang tidak hanya cerdas secara otak, namun juga hebat dalam kepribadian dan jiwa kepemimpinan. Daerah ini punya konsep ‘baliak ka surau’ yang menciptakan generasi yang tahu adat dan agama. Kita juga punya tradisi merantau. Dengan merantau akan melahirkan genrasi yang handal dan tahan banting.
Oleh karena itu, ada baiknya konsep tradisi yang telah dimiliki oleh daerah ini sejak bertahun-tahun lampau kembali diberdayakan. Memang, hal ini telah dimulai namun riak-riaknya baru di permukaan saja. Hanya di mulut semata. Belum ada tampak keseriusan dari tokoh-tokoh di negeri ini untuk menerapkan konsep tradisi pendidikan ala Minangkabau ini secara nyata.
Di samping itu, pemerintah sendiri juga harus kembali mengkaji ulang konsep pendidikan, terutama paradigma pendidikan yang diusung selama ini dimana cenderung hanya melahirkan generasi ‘jitu otak’. Dulu, kita punya Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, artinya konsep pendidikan dibarengi dengan budaya, melahirkan anak didik yang berbudaya. Sekarang ‘Budaya’ telah hilang dari konsep pendidikan di negeri ini.
Maka, agar generasi muda di negeri ini tidak hanya ‘jitu otak’ tapi juga ‘jitu watak’, tak ada cara lain selain merumuskan konsep pendidikan yang menyeimbangkan antara kecerdasan dan kepribadian yang berbudaya. Bagaimana caranya? Itulah pekerjaan rumah yang harus dilaksanakan oleh insan pendidikan dan para pemuka di negeri ini.
0 komentar:
Posting Komentar