Namun, ternyata SBY bergerak cepat dengan mengumumkan kabinet tepat sehari setelah dia dilantik menghapus anggapan itu. Walau demikian, ternyata masih ada berbagai pihak yang kecewa terhadap kompisisi kabinet tersebut. Hal ini, pada umumnya, disebabkan pemilihan sejumlah menteri yang terkesan sarat muatan politiknya dan sejumlah menteri lain yang tidak profesional pada bidangnya.
Apapun alasannya, pemerintahan baru telah terbentuk. Presiden – wapres telah resmi dilantik dan menteri-menteri telah ditetapkan. Tidak ada gunanya lagi mengeluhkan “menteri anu tidak cocok pada posisinya, si fulan tidak punya kapasitas menjabat sebagai menteri,” dan berbagai ungkapan bernada keluhan serta semacamnya. Sebagai rakyat, tentu untuk saat ini mari sama-sama kita hargai pilihan presiden kita itu. Wajar, dari ribuan tokoh yang berkemampuan tidak semuanya terpilih jadi menteri.
Sesuai slogan SBY-Boediono yaitu pemerintahan yang bersih untuk rakyat, tentu rakyat sangat berharap agar slogan atau janji tersebut mulai diterapkan konsepnya ke seluruh menteri yang ada di kabinte. Dalam militer, istilahnya briefing. Breifing para menteri dalam KIB II agar mampu memahami konsep yang tertuang dalam slogan itu.
Selain itu, pemerintahan juga harus melibatkan rakyat. Misalnya saja, libatkan seluruh rakyat untuk ikut membantu memberikan informasi kepada pemerintah melalui mekanisme yang mudah, tidak berbelit-belit tentang temuan dilapangan terkait hal-hal kotor yang masih cukup signifikan jumlahnya di departemen-departemen, LPND dan lembaga pemerintah lainnya.
Meskipun SBY-Boediono dan segenap jajaran menteri harus kerja keras untuk mewujudkan janji ini, tapi dengan kemauan, kewenangan dan kekuatan yang dimiliki hal ini bisa terlaksana.
Pemberantasan korupsi yang berkelanjutan, tanpa pandang bulu dapat membantu mempercepat perwujudan pemerintahan yang bersih. Sikap, perilaku aparat penegak hukum (law enforcement agency/ LEA) terkait pemberantasan korupsi akhir-akhir ini menunjukkan tidak adanya kemauan untuk bekerja sama, bahu membahu memberantas korupsi, malah saling melemahkan. Kita hanya bisa membayangkan betapa puas dan bahagianya para dan calon koruptor melihat adegan ini.
Untuk itu kita berharap kepada para menteri yang telah terpilih, agar benar-benar mau bekerja keras, menanamkan sikap integritas, jujur, dalam memenuhi setumpak harapan rakyat itu. Tidak penting lagi dari mana asal personal atau latar belakang keparetaian para menteri itu, yang penting sekarang adalah memenuhi harapan 250 juta rakyat Indonesia. Oleh karena itu, hapuslah semua sekat-sekat yang ada, tidak ada lagi bayang-bayang parpol di balik menteri, karena ketika mereka telah menjadi menteri maka atasan mereka adalah presiden, tidak Ketua Parpol.
Kepada menteri-menteri yang baru, jangan khianati kepercayaan rakyat. Bekerja keraslah membawa bangsa ini menuju tempat yang lebih layak dan membanggakan. Tidak hanya secara materiil namun juga immateriil. Bila merasa tidak sanggup untuk memenuhi harapan rakyat ini, maka kepada Presiden, jangan sungkan-sungkan untuk memecat mereka yang tidak kompeten.
0 komentar:
Posting Komentar