Tulisan Terbaru

Info Ringan

Tutorial Bisnis Internet

Ekonomi Bisnis

Minggu, 08 November 2009

Memulihkan Trauma Anak Pascabencana Tanggungjawab Bersama

Minggu, 08 November 2009
Salah satu korban akibat gempa dahsyat 7,9 SR lalu adalah anak-anak. Mereka mungkin tidak seperti orang dewasa pada umumnya yang mampu menelaah setiap kejadian dengan akal pikiran dan logika. Anak-anak korban gempa itu, melihat bencana ini dari perasaan terdalam di lubuk hati mereka. Oleh karena itulah, trauma yang menghantui para korban gempa dari kalangan orang dewasa, tidak sebesar trauma yang dialami oleh anak-anak tanpa dosa ini.

Banyak di antara mereka yang menyaksikan langsung rubuhnya rumah tempat tinggal mereka. Tempat berkumpul mereka bersama ayah dan ibu. Sekarang hanya tiggal puing-puing. Sekolah tempat mereka belajar dan bersenda gurau bersama teman-teman hanya menyisakan reruntuhan. Menyaksikan dengan mata kepala sendiri orang-orang berlarian panik saat gempa mengguncang, mendengar jerit minta tolong, kesakitan, dan rintihan para korban, dan mungkin pula ada di antara anak-anak kita itu yang melihat para korban yang tertimpa reruntuhan.

Semuanya itu meninggalkan trauma yang mendalam dan tidak mudah terlupakan begitu saja. Mungkin trauma itu tidak akan hilang dalam waktu panjang apalagi dalam waktu singkat. Terutama bagi anak-anak yang menjadi korban langsung dalam tragedi itu.
Oleh karena itu, pada hari pertama sekolah setelah gempa, Senin (12/10) kemarin proses belajar mengajar tidak dilakukan seperti biasa. Namun lebih difokuskan pada upaya memberikan terapi untuk menghilangkan trauma psikologis yang menghantui aset masa depan bangsa ini. Banyak cara yang dilakukan, di antaranya bernyanyi-nyanyi sambil bermain yang dipandu oleh guru-guru.

Raut sendu yang tergambar di wajah para anak-anak itu menyaksikan reruntuhan sekolah mereka segera berganti keceriaan. Kita tidak tahu apakah keceriaan itu hanya berlangsung sekejap dan ketika pulang ke rumah masing-masing trauma psikologis itu kembali membayang. Namun, tentu kita sangat tidak menginginkan hal itu terjadi.
Bagaimanapun juga, anak-anak itu tetap harus ceria agar semangat mereka tetap tumbuh untuk menjalani masa depan yang terbentang panjang di hadapan mereka. Jangan sampai trauma psikologis menyebabkan mereka berhenti belajar.

Beberapa waktu lalu saat terjadi gempa di Tasikmalaya, Jawa Barat, Mendiknas Bambang Sudibyo mengatakan bahwa dalam kondisi apapun tidak boleh ada satu orangpun anak yang berhenti sekolah. Mendiknas juga menegaskan bahwa pemerintah daerah, mulai dari gubernur hingga bupati/walikota memiliki tanggung jawab terhadap kelangsungan proses belajar mengajar di daerahnya. Termasuk, merehabilitasi ruang kelas dan bangunan sekolah yang rusak akibat gempa.

Kita berharap, apa yang dikatakan oleh Mendiknas itu menjadi kesadaran bersama semua elemen pemerintahan di negeri yang mencoba bangkit kembali setelah dilamun musibah ini. Memang penting membangun infrastruktur namun tentu lebih penting lagi menghilangkan trauma psikologis yang mengendap dalam diri anak-anak itu. Percuma jika sekolah emreka dibangun lagi namun semangat mereka untuk belajar tidaka da karena masih trauma. Atau mereka mau ke sekolah namun di sekolah hanya melamun saja.

Oleh karena itu, segenap unsur pemerintahan, tokoh masyarakat, dan para orangtua mari bersama-sama kita berupaya agar seulas senyuman kembali merekah di bibir-bibir mungil putra-putri kita itu. Tidak hanya para guru, namun semua kalangan pendidik mulai dan juga para mahasiswa memiliki tanggungjawab yang sama untuk memberikan ‘cahaya mentari pagi’ yang memberi kehangatan dalam dalam dada masing-masing siswa yang merupakan generasi penerus masa depan bangsa ini.


Related Posts



0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © Vox Populi Vox Dei | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog