Kabar pertakut itu, berupa isu akan adanya gempa besar dalam waktu dekat yang tak kalah besarnya daripada gempa 30 September lalu. Konon kabarnya, gempa itu kekuatannya berada pada kisaran di atas 8 SR – 8,9 SR. Gempa yang 7,9 SR saja sudah hancur negeri ini, apalagi gempa seperti yang dikatakan dalam isu itu.
Lintang pukang orang mendengar isu ini. Di kedai-kedai kopi hingga di perkantoran, isu ini menjadi topik pembicaraan hangat. Sampai-sampai, banyak pula yang sampai stress mendengar isu ini. Duduk tegak kemari susah memikirkan gempa besar yang akan datang. Saat di luar, terpikir anak istri di rumah. Saat tidur takut gempa itu akan datang. Boro-boro upaya pemulihan setelah gempa bisa menimbulkan sedikit ketenangan, yang ada malah rasa takut makin menjalar.
Tidak tega melihat keresahan yang makin meluas di tengah-tengah masyarakat, para ‘pakar gempa’ di negeri ini mulai angkat bicara. Mulai dari BMKG hingga ahli geologi. BMKG menyebut belum ada teknologi yang bisa memprediksi kapan gempa akan terjadi.
Penjelasan lebih lengkap disampaikan ahli geologi dari Universitas Andalas, Badrul Mustafa Kemal. Dia mengatakan secara logika mustahil akan ada gempa lebih besar dari gempa 30 September itu terjadi dalam waktu dekat. Hal ini dikarenakan gempa yang lebih dahsyat terjadi di lokasi yang sama dan dalam periode yang berdekatan belum pernah terjadi di belahan dunia ini. Contoh nyata adalah pada gempa di Aceh dan Nias, setelah gempa yang dahsyat di daerah tersebut, tak lagi ada gempa lebih besar terjadi di sana.
Sementara itu, sebagai makhluk yang beragama kita juga hendaknya tidak terburu-buru mempercayai isu meresahkan yang beredar luas tersebut. Menurut salah seorang ulama Sumbar, Buya Mas’oed Abidin, sesuai Al Qur’an kita diperintahkan untuk meneliti kebenaran sebuah berita (isu). Jangan sampai berita yang belum jelas kebenarannya itu kemudian disebarkan pula ke orang lain. Akhirnya menimbulkan hal-hal yang tidak kita inginkan bersama.
Rasanya, tanggapan dari dua ahli yang berkompeten pada bidangnya masing-masing itu bisa cukup melegakan kita. Buat para pakar, sudahilah kabar-kabar pertakut yang meresahkan itu, apalagi di tengah kekalutan ini.
Tinggal sebenarnya bagaimana kita menyikapi isu meresahkan itu. Kita telan mentah-mentah begitu saja atau menggunakan akal pikiran dan logika yang dikarunia Allah pada kita. Memang, kita juga harus menyadari kuasa Allah, jika dia berkehendak maka segala sesuatunya bisa terjadi. Namun, kita juga harus sadar bahwa kita diberikan akal oleh-Nya untuk menggali ilmu-ilmu yang ada di dunia ini.
Meskipun demikian, dari isu yang beredar itu kita bisa melihat sisi yang lain, yakni sisi positifnya. Isu itu, secara tidak langsung juga memberikan kita pelajaran untuk bersikap waspada. Tentu hal ini harus kita iringi dengan meningkatkan pengetahuan terhadap bencana, dalam hal ini gempa. Bahasa ilmiahnya mitigasi bencana. ‘bersahabat’ dengan bencana. Sehingga, ketika bencana itu datang, kita telah memiliki bekal untuk menghadapinya.
Tidak ada salahnya kita meniru bangsa Jepang. Negeri matahri terbit itu merupakan daerah yang juga rawan terhadap gempa. Namun masyarakatnya telah dibekali dengan pengetahuan tentang gempa. Sehingga ketika gempa terjadi, masyarakat sana sudah tahu apa yang mesti dilakukan untuk menyelamatkan diri.
Untuk itu, jelas tanggung jawab pemerintahlah untuk menumbuhkan kesadaran di tengah-tengah masyarakat bagaimana caranya ‘bersahabat’ dengan bencana itu. Tentu, diiringi pula dengan kesadaran kita sebagai warga masyarakat untuk mau membekali diri dengan pengetahuan tentang bencana tersebut.
0 komentar:
Posting Komentar