Namun, siapa yang menyangka, pertempuran yang diperkirakan oleh petinggi militer Inggris itu hanya berlangsung tiga hari ternyata berlangsung lebih lama dari dugaan semula. Berminggu-minggu, bahkan mencapai sebulan.
Tentu secara logika tidak masuk akal. Bagaimana mungkin peralatan tempur canggih bisa tak berdaya berhadapan dengan peralatan perang tradisional, seperti bambu runcing atau parang? Namun, ternyata bukanlah canggihnya peralatan yang menentukan kemenangan. Tapi semangat juang dan rasa persatuan yang kokoh menjadi kunci bagi para pejuang dalam mengusir para penjajah.
Nilai-nilai kepahlawanan para pejuang itulah yang kemudian hendaknya dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Karena, segarnya udara kemerdekaan dan derap maju pembangunan yang terjadi di semua lini kehidupan bangsa jelas tidak terlepas dari kemerdekaan yang telah direbut dan dipertahankan oleh para pejuang masa lalu.
Sekarang, kata pahlawan tidak hanya ditujukan bagi para pejuang yang angkat senjata melawan penjajahan. Kata pahlawan juga telah ditujukan kepada mereka yang berjasa bagi bangsa dan negara. Atlet yang bertarung di iven dunia juga disebut pahlawan. Para TKI juga disebut pahlawan. Guru juga disebut pahlawan. Pelajar berprestasi dalam olimpiade sains juga disebut pahlawan.
Namun, jika kita jeli mengamati, banyak di antara mereka yang disebut-sebut sebagai pahlawan itu mengalami nasib yang sebenarnya tidak pantasnya mereka terima. Sebut saja misalnya Elyas Pical, pahlawan tinju Indonesia, atlet terkenal di zamannya justru berakhir menjadi satpam diskotik dan terjebak narkoba di masa tuanya. Begitu juga para TKI yang banyak mengalami nasib tragis, disiksa, diperkosa, dan dilecehkan. Setali tiga uang, guru-guru banyak ‘menjerit’ karena gaji kecil, apalagi para guru honor.
Tampaknya, kata pahlawan hanyalah kebanggan semu, manakala banyak di antara mereka belum diberikan penghargaan yang setimpal oleh pemerintah. Mereka berjuang tanpa kenal lelah, sekuat tenaga, bercucur keringat, demi nama bangsa dan negara. Namun, tidak sedikit pula di antara mereka yang kemudian tidak dipandang sebelah mata oleh pemerintah.
Begitu pula halnya yang dialami oleh veteran pejuang. Mereka menyabung nyawa melawan penjajah. Namun ketika ‘terpaksa’ meminta pengakuan sebagai veteran dari pemerintah, banyak surat-surat ini-itu yang harus diurus. Akhirnya, tidak sedikit pula di antara veteran itu yang kemudian menyerah dan ‘merelakan’ saja dirinya tidak diakui secara resmi sebagai veteran pejuang.
Terlepas dari itu, di sisi lain setiap saat terutama saat peringatan hari-hari bersejarah seperti hari pahlawan, selalu digelorakan agar generasi sekarang mewarisi semangat kepahlawanan. Generasi muda harus menjiwai nilai-nilai kepahlawanan. Baca dan pahami cerita-cerita pahlawan.
Namun, faktanya ketika seseorang telah menjadi ‘pahlawan’ justru banyak diantara mereka yang tidak diperlakukan seperti layaknya pahlawan. Itu sama artinya ‘kepahlawanan’ mereka tidak diakui. Padahal, kita mungkin telah sama-sama tahu bahwa para pahlawan dan para veteran pejuang itu sama sekali tidak berharap ada imbalan bagi mereka. Mereka menjadi pahlawan tentu tanpa pamrih. Namun jika kita sendiri tidak mengakui mereka sebagai pahlawan, lalu untuk apa ada pahlawan?
Inilah tugas besar bagi pemerintah sekarang. Membangkitkan kembali semangat kepahlawanan sekaligus menghargai kepahlawanan mereka. Selamat Hari Pahlawan!
0 komentar:
Posting Komentar