Sejumlah pusat perbelanjaan yang menjadi ikon perekonomian di negeri ini, seperti plaza, perhotelan, hingga pasar raya tak luput dari amukan gempa. Tidak ada yang bisa memastikan kapan sarana dan prasarana bisnis yang menggerakkan perekonomian di daerah ini bisa beroperasi kembali secara normal. Terlebih, mengingat tingkat kerusakan cukup parah yang tentu butuh waktu tidak sebentar untuk memperbaikinya.
Namun, sebagai masyarakat Minang yang terkenal memiliki tipikal saudagar, tentu tangis itu tidak akan diperpanjang. Apalagi sampai larut dalam kesedihan yang tak berujung. Inilah salah satu sifat warga Minang yang kiranya cukup positif dalam upaya bertahan hidup di tengah kesusahan. Hal ini, misalnya, dibuktikan selang dua hari setelah gempa secara perlahan aktivitas perekonomian mulai bangkit meski masih dalam kondisi yang serba terbatas.
Dalam Al Qur’an, sepotong ayat menyebutkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa yang ada pada diri mereka (QS 13:11). Sesuai dengan makna ayat ini, tentu kita ingin bangkit dari peterpurukan ini. Kembali normal seperti keadaan sebelum gempa. Namun jelas hal itu tidak akan bisa tercapai jika kita hanya berpangku tangan. Meratapi kerugian yang kita derita. Melamun. Bermenung, tanpa berbuat apapun.
Walikota Padang, Fauzi Bahar telah mengimbau semua agar roda perekonomian di kota ini bangkit kembali. Tentu imbauan itu tidak akan memberikan apapun jika bukan kita sendiri yang melakukannya. Apalagi, pemerintah juga telah berjanji memberikan bantuan agar roda perekonomian di Sumatera Barat kembali pulih seperti sedia kala.
Untuk itu pemerintah sudah membantu menyebar 200 tenda yang bisa digunakan sementara di pasar-pasar yang rusak dan tidak bisa digunakan. Selain itu, pemerintah juga hendaknya memikirkan relokasi pasar alternastif agar pasar yangf merupakan salah satu pusat perekonomian yang bersentuhan langsung dengan masyarakat kembali bergairah.
Berdasarkan data sementara, sebanyak 19 pasar di Padang mengalami rusak berat, sedang dan ringan. Di Pasar Raya Padang, dari enam gedung, sebanyak tiga gedung rusak berat, satu pasar rusak sedang dan dua pasar lainnya rusak ringan. Di Kabupaten Padang Pariaman delapan pasar rusak berat, sementara di Kota Pariaman dua pasar.
Oleh karena itu, di samping bangunan darurat bagi sekolah-sekolah hendaknya juga ada bangunan darurat sebagai pengganti pasar yang rusak karena pasar yang rusak akibat gempa jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit.
Selain itu, pemerintah juga perlu memikirkan suatu rencana tangguh dan jitu guna memancing investor untuk menanamkan modalnya di Sumatera Barat usai musibah ini. Bagaimanapun juga, kondisi demografis Sumbar yang rawan gempa tentu membuat kalangan pemodal berpikir berulang-ulang kali untuk berinvestasi di negeri ini. Pertanyaannya, bisakah pemerintah melakukan hal itu?
0 komentar:
Posting Komentar