Diperkirakan jutaan pemudik akan membanjiri Sumatera Barat dalam lebaran tahun ini. Sehingga menambah jumlah penduduk Sumbar selama beberapa hari sejak H- hingga H+ lebaran. Tentunya, kondisi ini juga memberikan makna tersendiri bagi pemerintah, terutama instansi terkait seperti pihak kepolisian, dinas perhubungan, dan logistik (Pertamina, Bulog, BKP) dalam menjaga agar situasi lebaran di Sumbar tetap terjaga sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman bagi para pemudik.
Untuk persoalan keamanan, Polda Sumbar telah menyiagakan sekitar 3500 personil ditambah 500 personil dari berbagai instansi terkait untuk mengamankan pelaksanaan Idul Fitri 1430 Hijriyah. Jumlah ini disebar di seluruh kabupaten dan kota di Sumbar, termasuk di sejumlah kawasan yang rawan bencana alam.
Sedangkan untuk urusan logistik, baik pertaminan, Bulog, maupun Badan Ketahanan Pangan (BKP) Sumbar sejak jauh-jauh hari sudah melakukan sejumlah persiapan agar kondisi logistik menyambut lebaran tidak menimbulkan kendala. Tentu sudah dengan perkiraan terjadinya peningkatan kebutuhan logistik selama lebaran karena meningkatnya penduduk Sumbar akibat arus mudik.
Dengan semua persiapan yang telah dilakukan sejumlah instansi terkait, tentu kita berharap pengamanan lebaran dapat berjalan lancar dan situasi lebaran di Sumbar tetap terjaga, terkendali, aman, dan nyaman.
Kita tahu, baik pihak kepolisian, dishub, dan instansi terkait lainnya sudah berupaya semaksimal mungkin dalam pengamanan lebaran, namun tentu masih ada sejumlah hal-hal yang luput tanpa disengaja, berikut juga persoalan non teknis lainnya.
Sejumlah persoalan non-teknis yang terkadang susah untuk ditanggulangi adalah dari pemudik itu sendiri. Benar bahwa pihak kepolisian menurunkan ribuan personil untuk mengamankan lebaran. Namun, upaya itu tentu kurang berarti jika tidak diiringi dengan usaha dari pemudik untuk ikut membantu mewujudkan suasana lebaran yang aman.
Hal ini beranjak dari pengalaman bahwa masyarakat kita belum siap untuk mendisiplinkan diri sendiri dan mematuhi hukum sesuai undang-undang. Hal ini sangat riskan dalam suasanan mudik dimana sangat dibutuhkan kepatuhan terhadap undang-undang lalu lintas yang berlaku.
Oleh karena itu, selain ketegasan aparat untuk menegakkan hukum dan aturan yang berlaku, hendaknya pemudik juga menyadari bahwa mereka tidak bisa seenaknya saja di jalan raya. Jangan mentang-mentang mudik, semua aturan dilanggar.
Selain itu, Sumbar juga merupakan daerah yang rawan bencana yang tentunya kondisi ini perlu mendapat prioritas utama dalam persoalan pengamanan lebaran. Dinas terkait, seperti Dinas Prasarana Jalan maupun dinas perhubungan diharapkan benar-benar serius dalam menyiagakan alat beratnya pada sejumlah titik rawan bencana. Hal ini penting agar ketika hal buruk terjadi di luar batas kemapuan manusia, segala kerugian yang mungkin timbuk dapat diminimalisir. Baik itu kerugian waktu karena tertundanya perjalanan maupun kerugian materil atau korban dari pihak masyarakat.
Kita harus mengapresiasi semua kerja keras dan tidak kenal lelah pemerintah dalam menyiapkan pengamanan lebaran, namun pada saat yang bersamaan sebagai warga masyarakat yang mungkin juga akan ikut mudik hendaknya juga menumbuhkan kesadaran untuk mematuhi aturan dan undang-undang yang berlaku. Dengan kerjasama harmonis pemerintah dan masyarakat, kita sama-sama berharap lebaran tahun ini berjalan dengan lancara, aman dan nyaman di Sumbar.
0 komentar:
Posting Komentar