Tragedi itu memang terjadi di Provinsi Maguindanao, Filipina selatan, pekan lalu. Meskipun demikian, peristiwa itu tetaplah mengusik insan pers di mana saja, dan juga mereka yang peduli dan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan terhadap masalah kemanusiaan, kebebasan berpendapat, dan berekspresi.
Sangat masuk akal kalau berbagai reaksi bermunculan dari mana-mana, mulai dari yang menyayangkan sampai dengan mengecam bahkan mengutuk tindakan itu. Kelompok kebebasan pers internasional, Reporters Without Borders, yang berpusat di Paris, Perancis, misalnya, mengutuk pembunuhan terhadap wartawan itu, yang disebutnya ”pembunuhan paling buruk dalam sejarah”.
Komite Perlindungan Wartawan (CPJ) yang berpusat di New York menyatakan pembunuhan itu sebagai ”bencana yang sesungguhnya”. Berbagai organisasi wartawan di Filipina sangat mengecam kekejaman itu dan mengutuk dengan keras.
Kekerasan terhadap pers tidak hanya terjadi di Filipina, di negeri kita pun ada. Ada daftar panjang mengenai kekerasan terhadap pers yang terjadi di negeri ini. Semua itu membuktikan bahwa profesi wartawan, yang seharusnya mendapatkan perlindungan berdasarkan prinsip-prinsip universal kebebasan pers, masih menjadi profesi yang rawan di banyak negara, termasuk di Indonesia.
Ada yang bilang the first casualty of war is truth. Korban pertama dari sebuah perang adalah kebenaran. Namun, wartawan tetap saja ngotot, the first obligation of journalism is to the truth. Karena itu, untuk melaporkan the truth atau kebenaran, wartawan berani mengambil risiko kehilangan nyawanya sendiri, tentu tanpa kesia-siaan.
Kita tahu dua prinsip di dunia kewartawanan yang bertabrakan dalam liputan di daerah konflik. Prinsip pertama, jika terjadi sebuah peristiwa besar, liputlah ke lokasi bagai kesetanan. Meliput langsung dari tempat kejadian perkara merupakan mahkota seorang wartawan.
Masalahnya, ada prinsip kedua jurnalistik yang harus diperhatikan betul, yaitu tak ada berita sebesar apa pun yang harus ditebus dengan nyawa seorang wartawan. Bagaimanapun nyawa seorang wartawan harus dianggap lebih berharga ketimbang peristiwa besar apa pun yang diliputnya.
Kembali ke Filipina, para wartawan tersebut tewas sebagai imbas dari pertarungan politik, pertarungan antarklan untuk memperebutkan kekuasaan di Maguindanao. Jelas bagi kita bahwa nafsu akan kekuasaan telah membutakan mata hati para pemburu kekuasaan dan mengabaikan semua prinsip kemanusiaan. Nyawa menjadi tidak ada artinya bagi kekuasaan. Ini sangat memprihatinkan.
Sumber: Kompas, 26 November 2009
0 komentar:
Posting Komentar