Bahkan, wacana yang menyeruak dalam kesempatan itu langsung disambut baik oleh Bupati Limapuluh Kota Amri Darwis. “Kita siap menerima pemindahan ibu kota Sumatera Barat ke daerah ini, menyusul adanya wacana pemindahan itu,” ujar Amri Darwis dihadapan anggota DPD-RI di kediaman bupati Gonjong Limo.
Tidak hanya itu, Amri Darwis juga sudah punya rencana akan menjadikan lapangan terbang yang saat ini ‘mati suri’ yakni lapangan terbang Piobang di Payakumbuh kembali diaktifkan.
Terkait keberadaan lapangan terbang yang aktif dalam masa perjuangan kemerdekaan itu, sebenarnya juga sudah diminta oleh Pemprov Sumbar untuk dijadikan bandara feeder atau pengumpan beberapa waktu lalu. Bandara feeder di sini dimaksudkan untuk memancing arus pertumbuhan daerah dengan memanfaatkan lalu lintas udara, terutama di daerah padat penduduk. Setidaknya ada empat daerah di Sumbar yang diproyeksikan memiliki bandara feeder yakni Kabupaten Dharmasraya, Mentawai di Siberut, di Pagai Utara dan Pagai Selatan, Limapuluh Kota di Nagari Piobang dan Kabupaten Agam di Nagari Koto Gadang. Bahkan daerah-daerah tersebut juga menganggarkan studi kelayakannya dalam APBD tahun 2009.
Kembali ke pertanyaan awal, mungkinkah jika Limapuluh Kota dijadikan Ibukota Sumatera Barat? Tentu mencari jawaban atas pertanyaan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Karena, dalam hal ini sangat banyak hal-hal terkait yang terlibat, rumit, dan sangat kompleks. Apalagi, selama ini Kota Padang sebagai Ibukota Sumbar sekarang sudah melakukan sejumlah terobosan-terobosan dalam bidang pembangunan, setidaknya telah merealisasikannya dalam berbagai rencana. Sebut saja misalnya Padang Bay City yang akan menjadikan Kota Padang sebagai ikon wisata bahari unggulan.
Derap pembangunan di Kota Padang juga sudah semakin keras terdengar. Investor dari berbagai negara, terutama dari Timur Tengah dan negara dari utara seperti China sudah berdatangan ke Kota Padang menyatakan minatnya berinvestasi di Kota Padang. Di samping itu, Kota Padang juga sudah memiliki sejumlah sarana dan prasarana vital seperti BUMN dan BUMD, begitu juga perusahaan nasional dan internasional yang bercabang di negeri bingkuang ini.
Alasan wacana pemindahan ibukota itu sebenarnya muncul sebagai solusi akibat adanya kekhawatiran pergeseran lempengan Austro-Asia dan Indo Asia di bagian Barat Sumatera, atau dengan kata lain kekhawatiran terjadinya gempa. Namun, cukupkah alasan itu untuk memindahkan Ibukota Provinsi ke Limapuluh Kota? Pertanyaan itu, lagi-lagi adalah pertanyaan yang sederhana namun membutuhkan jawaban yang rumit.
Oleh karena itu, ada baiknya hal tersebut benar-benar dipertimbangkan dengan matang, melibatkan semua pihak dan lintas sektoral. Kita tidak menginingkan hal ini justru kemudian menjadi pemecah konsentrasi saat daerah ini masih butuh perhatian ekstra untuk mengatasi hal-hal yang tak kalah pentingnya yaitu rekonstruksi pascagempa.
0 komentar:
Posting Komentar