Tulisan Terbaru

Info Ringan

Tutorial Bisnis Internet

Ekonomi Bisnis

Rabu, 11 November 2009

Bencana itu Terjadi Akibat Ulah Manusia Juga

Rabu, 11 November 2009
Belum hilang trauma akibat gempa berkekuatan 7,9 SR lalu yang merenggut ribuan korban jiwa dan kerugian materi mencapai triliunan rupiah, Sumbar kembali diguncang oleh petaka pada Selasa (10/11) kemarin. Petaka berupaka bencana alam yang terjadi di Bukittinggi itu juga mengakibatkan korban tewas dua orang dan empat lainnya luka-luka.

Bencana di kota Jam Gadang itu tepatnya terjadi di Pasar Lereng berupa tanah longsor yang langsung menggulung dan menimbun kios-kios pedagang. Jika mencermati karakteristik bencana, terutama bencana alam berupa tanah longsor, memiliki perbedaan yang cukup signifikan dibanding bencana alam lainnya seperti gempa bumi.

Jika bencana alam gempa bumi sama sekali tidak bisa diprediksi dan murni merupakan bencana yang terjadi secara tiba-tiba, maka tanah longsor merupakan bencana yang tidak berdiri sendiri. Artinya, longsor sebenarnya bisa diwaspadai jika berkaca pada ulah manusia itu sendiri. Misalnya, penggundulan lahan di kawasan perbukitan akan menyebabkan longsor jika terjadi hujan lebat.

Hal inipun sebenarnya sudah diberitahukan sejak 14 abad yang lampau. Sebagaimana firman Allah dalam Al Quran, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. AR-Ruum, 30:41).

Air yang seharusnya berfungsi untuk memberi kehidupan berubah menjadi air bah yang menghancurkan. Tanah yang memiliki arti untuk kesejahteraan malah menjadi longsor yang merenggut puluhan nyawa. Dan angin yang sifatnya lembut berubah menjadi putting beliung yang garang.

Maka, bisa jadi bencana alam yang ‘menyapa’ bumi Indonesia, dan juga Sumatera Barat sebenarnya merupakan akibat dari ulah manusia itu sendiri. Para ‘oknum masyarakat’ seenaknya saja menggunduli hutan. Melakukan illegal logging. Mencabuti terumbu karang. Menebang pohon bakau demi keindahan pantai, katanya pula. Namun, akibat dari semua perbuatan itu, begitu terjadi hujan deras, tanah tidak lagi sanggup menampung curahan air karena ketiadaan pepohonan sehingga terjadilah banjir bandang dan tanah longsor. Begitu juga di laut. Ketika air pasang tidak ada lagi benteng berupa pohon bakau dan sejenisnya sehingga terjadilah abrasi.

Maka, janganlah kita menyalahkan alam dan yang lainnya apabila terjadi bencana dan kerusakan dimana-mana, tetapi salahkan diri kita sendiri. Setiap bencana yang menimpa dan musibah yang melanda adalah akibat tangan kita sendiri.

Beranjak dari kondisi yang cukup memprihatinkan inilah, maka ada baiknya masing-masing diri kita menumbuhkan kesadaran untuk kembali ke alam. Kembali menjaga kelestarian alam. Agar alam itu tidak lagi ‘murka’ akibat polah kita yang tidak bertanggungjawab.

Mengutip perkataan seorang staf DAS Kuantan, melihat negeri kita, apa makna yang pantas untuk kita jadikan sebuah renungan. Lihatlah, negeri kita ini telah porak poranda dihantam kemurkaan ilahi, disetiap sudut negri tak pernah hentinya kita mendengar informasi, di sana telah terjadi berbagai bencana yang menewaskan sekian banyak orang, memutuskan jalur perhubungan, distribusi sembako mengalami kesulitan.

Di sini telah terjadi tanah longsor, persawahan rakyat tertimbun, hasil panen terancam gagal, harga bahan pokok melonjak naik dan lain sebagainya. Lalu kenapa kita juga belum sadar akan peringatan ini, mari kita renungkan kesalahan kita pada masa lampau, hentikanlah segala bentuk perbuatan yang sangat merugikan kita semua.

Ada patutnya juga dituliskan disini, khusus untuk daerah kita Sumatera Barat, berdasarkan keterangan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Padang, selama sebulan kedepan curah hujan akan terjadi dalam intensitas yang cukup sering. Hal ini dapat memicu terjadinya banjir dan tanah longsor, terutama di titik-titik rawan seperti Lembah Anai, Sitinjau Laut, dan juga sejumlah kawasan pesisir lainnya.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita tingkatkan kewaspadaan dan bersikapo ekstra hati-hati dalam mengantisipasi kemungkinan bencana yang bisa terjadi setiap saat. Tentu, kita tidak letih-letihnya berdoa dan berharap, agar bencana tidak lagi terjadi di negeri kita. Semoga! *


Related Posts



0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © Vox Populi Vox Dei | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog