Tulisan Terbaru

Info Ringan

Tutorial Bisnis Internet

Ekonomi Bisnis

Selasa, 17 November 2009

Ada Apa dengan Bukittinggi?

Selasa, 17 November 2009
Bukittinggi adalah sebuah kota di Sumatera Barat yang terkenal dengan hawanya yang cukup sejuk. Pemandangan alam yang terhampar di Kota Bukittinggi cukup indah, sebut saja misalnya Ngarai Sianok. Di Bukittinggi juga ada Lubang Japang. Ada kebun binatang juga. Benteng Fort de Kock. Jam Gadang. Dan masih banyak lagi ikon pariwisata lainnya yang bertebaran di setiap sudut kota Bukittinggi.

Maka, tak heran jika Bukittinggi kemudian ‘dinobatkan’ menjadi salah satu Kota Pariwisata di Ranah Minang yang menjadi tujuan para pelancong baik dari dalam negeri maupun dari mancanegara. ‘Belum ke Sumatera Barat jika belum berkunjung ke Bukittinggi’. Ungkapan itu menjadi pameo yang berlaku di kalangan turis-turis yang pernah menyinggahi kakinya datang ke kota ini.

Sekilas menilik sejarah, Bukittinggi juga kaya akan nilai historis. Proklamator, yang juga menjadi Wakil Presiden pertama negara ini, Mohammad Hatta adalah putra asli Bukittinggi. Syahrir juga tokoh nasional yang lahir di kota ini. Masih banyak lagi yang lainnya.

Konon kabarnya pula orang Bukittinggi itu memiliki sifat yang ramah, pandai bergaul, dan mempunyai karakter pedagang murni. Sehingga sudah cukup kiranya setumpuk alasan di atas untuk membuat warga Sumatera Barat bangga punya kota seperti Bukittinggi.
Tentu, alangkah malunya kita sebagai warga Minang jika Bukittinggi yang kita banggakan itu tercoreng oleh arang hitam. Lebih parahnya lagi, yang mencoreng arang ke kening itu bukanlah orang luar Sumbar namun orang kita juga.

Apa pasal? Simaklah kejadian memalukan yang terjadi di Kota Bukittinggi ini dalam dua hari terakhir. Pasangan mesum tertangkap tengah mengerjakan perboatan asusila di los 432 Aur Kuning pada Senin lalu. Selang sehari hari kemudian, petugas Pol PP Kota Bukittinggi kembali menangkap pasangan mesum. Kali ini, pasangan itu bukan warga Bukittinggi, namun warga Agam dan Padang Pariaman. Mereka tertangkap di tempat yang sama, los 432 Aur Kuning! (Haluan Selasa, 17/11 dan Rabu, 18/11). Bahkan, dari kedua pasangan mesum itu, sepasang di antaranya adalah paman dan ponakan kandung!

Terkejut kita. Terhenyak jantung kita. Apa yang salah dengan Kota Bukittinggi? Dalam dua hari berturut-turut dua pasangan mesum ditangkap di Bukittinggi, di tempat yang sama pula! Di tengah-tengah keramaian. Kemana urat malu mereka? Sudah hilangkah raso pareso mereka? Dicampakkan kemana oleh mereka itu falsafah ‘Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah?’

Negeri ini baru saja diguncang bencana dahsyat gempa 7,9 SR yang merenggut ribuan korban jiwa dan kerugian materil triliunan rupiah. Masih membekas pula dalam ingatan kita kejadian seminggu lalu saat pasar lereng ‘dihondoh’ longsor. Dua orang tewas dan empat lainnya luka-luka. Belum cukupkah ‘teguran’ itu sehingga masih ada saja oknum-oknum masyarakat yang berani berbuat dosa dan berzina secara terang-terangan, di tengah keramaian pula? Naudzubillahimindzalik!

Kembali kita bertanya, ada apa dengan Bukittinggi? Apa yang salah dengan Bukittinggi?
Tentu tidak ada yang salah dengan Bukittinggi. Yang perlu diperhatikan adalah kenapa hal itu bisa terjadi. Kita hidup di negeri yang punya mamak dan kemenakan. Punya datuk-datuk, alim ulama, cadiak pandai. Mereka lah yang memaga nagari ini dari berbagai bentuk kejahatan dan tentunya kebobrokan.

Maka, ada baiknya kita merenung kembali sudah sejauh manakah tugas dan tanggung jawab kita sebagai mamak, sebagai datuak, sebagai bundo kanduang, alim ulama, cadiak pandai itu kita laksanakan?

Khusus bagi pemerintahan Bukittinggi, acungan jempol pantas kita tujukan kepada satpol PP Kota Bukittinggi yang berhasil menangkap pasangan mesum itu. Namun, jangan berhenti sampai di situ saja. jangan menunggu laporan masyarakat. Kita mengharapkan satpol PP aktif melancarkan operasi-operasi penertiban sehingga Kota Bukittinggi tidak lagi ‘dikumuhi’ oleh perbuatan asusila yang dilakukan oleh oknum masyarakat itu. *


Related Posts



0 komentar:

Posting Komentar

 
Copyright © Vox Populi Vox Dei | Powered by Blogger | Template by Blog Go Blog